Jakarta Jakarta ya ini Jakarta
Sejak TK, saya sudah tidak asing lagi dengan kata "Jakarta". Mengapa demikian? karena banyak saudara-saudara saya seperti paman (tulang dan pak uda), tante, maupun oppung (kakek dan nenek) yang tinggal di sana. Namun, hanya sekedar tahu nama dan tidak tahu apa-apa mengenai situasi dan kondisi di tempat itu. Hingga pada saat liburan naik kelas 5 SD (2013) saat itu, saya diajak buat liburan ke Jakarta dan banyak hal yang benar-benar di luar ekspektasi saya. Salah satunya yaitu suhu. Saya sangat tidak suka suhu di Jakarta yang panas, karena saya merupakan anak yang lahir dan besar di daerah pegunungan yang mana saya terbiasa dengan suhu dingin. Sehingga hal tersebut membuat saya tidak ingin berlama-lama tinggal di Jakarta. Ditambah lagi perjalanan yang sering terhambat karena macet, membuat saya sering tantrum di mobil. Walaupun di mobil pakai AC, tetapi tetap saja menghabiskan waktu di perjalanan dengan pemandangan mobil berbaris bukan hal yang menarik bagi seorang anak SD pada saat itu.
Berdasarkan pengalaman liburan itulah saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak menjadikan Jakarta sebagai kota tujuan untuk sekolah, kuliah, bahkan tinggal selama-lamanya. But, Look at me now! The real kemakan omongan sendiri.
Sebetulnya memilih Politeknik Statistika STIS sebagai sekolah tujuan bukanlah keinginan saya, namun saya yakin, dengan saya berada di sini (Jakarta), saya yakin pasti banyak pelajaran yang Tuhan ingin ajarkan ke saya secara tidak langsung, seperti (1) bersyukur jika masih diberi waktu bisa kumpul dengan keluarga. Sebagai anak rantau, pasti merasakan yang namanya homesick kan. Jadi, semenjak kuliah, hari saat pulang kampung itu merupakan hari yang tidak bisa dideskripsikan bagaimana bahagianya. Maka dari itu, semenjak kuliah saya semakin mensyukuri hal-hal yang masih bisa saya lakukan bersama keluarga saya.
Lalu yang kedua (2) yaitu mengenai kesehatan. Jakarta mengajarkan saya untuk lebih sayang dengan tubuh saya sendiri. Beradaptasi dengan situasi yang harus pakai kipas angin nonstop 24 jam bukan hal yang mudah saya terima pada awalnya. Ditambah udara Jakarta juga yang kurang bersahabat. Dua hal tersebut membawa saya kepada pengalaman pertama kali seumur hidup yaitu dirawat inap di RS. Dan sialnya waktu rawat inap juga bersamaan dengan UAS tahun lalu, double kill bukan???
Dann yaa, efek dari kipas angin dan udara kotor tersebut membuat paru-paru anak gunung ini ingin rehat sejenak dari hiruk pikuk per-cool-yeah an, hhehehe just kidding
Honestly, merasakan rawat inap tanpa orang tua sedih juga teman-teman. Namun, saya masih termasuk orang yang beruntung karena semua adik mama saya tinggal di Kota Bekasi, sehingga mudah menjangkau saya kalau saya perlu bantuan. Seperti pada saat saya opname kemarin, tante saya yang menjaga saya, sehingga saya tidak perlu kesusahan dalam hal apa pun termasuk urus surat-surat yang sebagai syarat supaya bisa ikut UAS susulan.
Pelajaran yang ketiga (3) yaitu tentang kehidupan yang produktif. Saya mengakui kalau saya merupakan pribadi yang kurang tertarik mengikuti banyak kegiatan di luar perkuliahan. Sehingga bisa di bilang kegiatan saya hanya bangun tidur - kuliah - pulang - nugas - tidur - repeat. Seiring berjalannya waktu saya merasa kalau kegiatan begitu kurang produktif, maka dari itu saya memutuskan untuk memanggil good habit saya dulu, yaitu workout. Sehingga, saya selalu mengusahakan setiap pagi atau sore untuk workout terlebih dahulu, minimal 15 menit. Walaupun hanya 15 menit, tetapi bisa memengaruhi mood saya seharian.
Pelajaran keempat (4) yaitu terbiasa dengan transportasi umum. Kalau bukan karna tinggal di Jakarta, saya tidak akan pernah merasakan naik Tj, MRT,LRT, dan KRL. Dari kebiasaan memakai transportasi umum juga saya menilai kalau penduduk Jakarta banyak yang individualisme (Lo Lo Gue Gue), bahkan parahnya saat anak-anak muda tidak mau mengalah memberi tempat duduk kepada orang yang lebih membutuhkan (kakek, nenek, ibu hamil).
Dari kerasnya Jakarta, menuntut saya untuk menjadi anak yang lebih kuat dan tidak menye-menye.
Last but not least, i wanna thank me sudah bisa bertahan sampai saat ini.
Sekian..
Comments
Post a Comment