jadi anak Polstat STIS?? bagaimana bisaa???

Hiiii, saya May Anna Laura Nainggolan kerap dipanggil Anna, lahir di Kabanjahe tanggal 19 Mei 2003 dan saya merupakan anak pertama dari 3 bersaudara. Saya lulus SMA tahun 2021, tetapi saya mulai menjadi mahasiswa di Polstat STIS tahun 2022. Yaaa.., selama setahun setelah lulus SMA saya memutuskan untuk gap year. Saya tidak mau selama gap year tinggal bersama orang tua jadi saya memilih untuk tinggal di rumah tulang (adik laki-laki dari mamak) yang ada di Bekasi Barat.

Mengapa harus merantau padahal hanya persiapan UTBK? Pertanyaan itu sering sekali saya dapat sebelum berangkat ke Bekasi. Ada tiga alasan mengapa saya mengambil keputusan itu. Pertama, saya minder. Karena berhubung pada saat itu masi berlaku prokes sehingga teman teman yang sudah diterima di univ terkait masih tinggal di Kabanjahe, jadi saya minder jika ketemu mereka. Kedua, saya malu jika ketemu mereka. Terakhir, karena dari awal saya sudah tidak sabar ingin merantau, jadi saya ingin merantau walaupun title nya bukan untuk kuliah. 

Selama di Bekasi, saya hanya fokus ikut bimbel untuk persiapan masuk PTN. Setelah berbulan bulan saya di rumah tulang,  banyak sekali hal-hal yang sebelumnya tidak masuk ekspektasi saya, baik itu yang sakit maupun yang manis, namun karena merantau adalah keputusan saya, mau tidak mau harus saya telan apapun yang saya rasakan dan sebisa mungkin saya menahan mulut saya untuk mengeluh ke bapak ataupun ke mamak. 

Tibalah saat untuk daftar- daftar PTN. Bahkan untuk pilihan PTN pun, saya tinggalkan ego saya demi menuruti keinginan keluarga saya. Pada saat itu pilihan pertama saya FMIPA ITB dan pilihan kedua MATEMATIKA UNSRI. Padahal dari SMP, saya sudah ingin sekali bisa kuliah di Unpad. Sehingga kalimat yang selalu saya munculkan di kepala ketika keinginan orang tua berbeda dengan keinginan saya ialah "pasti ada rezeki buat anak yang menuruti keinginan orang tua". 

Singkat cerita, suatu hari
mamak nanya , "kakak ga ikut tes kedinasan?"
saya : "ga mak" (karena prodi yang saya impikan dari saya kelas 1 SMA sudah ditiadakan di sekdin tersebut)
mamak : "kenapa?"
saya : " ga ada yang anna suka"
mamak : " coba ajala kak, mumpung masih ada kesempatan"
saya : " tapi apa yang mau anna coba mak, gada yang anna suka"
mamak : " coba kakak tes Polstat STIS, itu ga banyak syarat2 nya kan, kayak tb harus segini, gigi harus rapi, gada kan kak? "
saya : " ia gada mak, tapi anna gada sama sekali persiapan buat skd mak"
mamak : " gapapa, mamak nyuruh nyoba bukan berarti harus lulus, biar kakak dapat pengalaman aja kok "
saya : " ia mak" (saat itu juga, saya langsung berlangganan aptaschool agar dapat akses tryout SKD)
Namun, saya mulai latihan tryout saat sehari setelah saya selesai UTBK ( saya utbk tanggal 3 Juni 2022) dan jadwal SKD saya 8 Juni 2022. Ya, hanya beberapa tryout yang sempat saya kerjakan.

Lokasi SKD saya saat itu di BKN Pusat dan saya dapat sesi terakhir sehingga selesainya sudah malam.
Puji Tuhan, yang tadi awalnya saya pesimis karena takut ga lulus dari setiap passing grade sub tes nya, namun Tuhan bisa kasih saya lebih. Skor SKD saya 427, padahal selama TO tidak pernah menyentuh angka 400an. Selang beberapa hari setelah SKD pengumuman UTBK keluar dan saya diberi kesempatan lulus di UNSRI. Tidak lama setelah itu juga, pengumuman spmb stis keluar juga, kalau saya lanjut ke tahap 2 dan jadwal tes saya 29 Juni 2022, saya menerima pengumuman ini ketika saya masih di Yogyakarta bersama keluarga, tapi memang dari awal dijadwalkan kalau balek ke Bekasi tanggal 28 Juni. Sehingga, saya benar benar tidak ada persiapan sama sekali untuk tes tahap 2. Lokasi tes saya pada saat itu di Polstat STIS, sehingga saya ngomong dalam hati "kalaupun saya tidak bisa jadi mahasiswa disini, setidaknya saya sudah pernah menginjakkan kaki di sini." 

Hari demi hari berlalu, hasil tahap 2 keluar dan saya lulus ke tahap 3. Lokasi tes saya di Lab. Prodia Jakarta Selatan. Singkat cerita, tibalah hari dimana pengumuman keluar. Semua keluarga saya juga ikut mantengin web stis. Dann puji Tuhan, saya diizinkan menjadi mahasiswa di Polstat STIS. 
Setelah saya resapi, ternyata pertanyaan saya satu persatu terjawab melalui kisah saya selama gap year dan banyak sekali pelajaran kehidupan yang bisa saya petik dari kisah saya ini. 
Seperti , mendahulukan harapan/keinginan/pesan orang tua karena feeling orang tua jarang banget salah. Lalu, kalimat "kalau sudah rezeki bakalan datang dengan sendirinya, kalau belum rezeki, mau sampe berdarah darah pun menggapainya ga akan tergapai" sudah saya rasakan di kehidupan saya.

Tampak jelas sekali kalau persiapan saya untuk SPMB ini jauh dari kata sempurna, bahkan jauh banget. Dan saya juga sama sekali ga pernah kepikiran bakalan bisa lulus, bahkan tahap skd saja saya ga berharap lulus perangkingan, karena saya tau persiapan saya minim banget. Tapi, ternyata doa dan harapan orang tua saya yang mengantar saya bisa sampai di Polstat STIS.

Sedikit disclaimer, mulai saya kelas 1 SMA, saya sudah ambis banget supaya diterima di sekdin impian saya. Mulai dari bahas SKD (buku), ikut  TO gratisan, kalau sore ikut binsik dll. Tapi, saya ingat banget, saat saya SMA saya meratukan akademik tanpa memerhatikan harapan dan keinginan orang tua saya, saya jarang sekali mau menuruti apa yang ortu saya mau. Dan saat kelas 3 SMA baik PTN maupun PTK yang saya ingin, satupun tidak ada yang menerima saya. 
Maka dari itu, selama saya gap year, saya belajar untuk tidak mengedepankan ego, tetapi menuruti kemauan orang tua, karena saya yakin pasti ada rezeki anak yang menuruti kemauan orang tua.

sekiannnn sampai jumpaaa🫶🏻


Comments